BAB I
PENDAHULUAN
A.LatarBelakang
Siswa mampu membaca bukan karena
secara kebetulan atau didorong oleh inspirasi, tetapi karena diajari. Membaca bukanlah
kegiatan alamiah, tetapi seperangkat komponen yang dikuasai secara pribadi dan
bertahap, yang kemudian terintegrasi dan menjadi otomatis. Dalam hal ini
William S. Gray (dalam I Gusti Ngurah Oka
2005: 34) menekankan bahwa membaca tidak lain daripada kegiatan pembaca
menerapkan sejumlah keterampilan mengolah tuturan tertulis (bacaan) yang dibacanya
dalam rangka memahami bacaan.
Dalam proses pembelajaran biasanya seorang pembelajar merasakan nikmatnya membaca bukan hanya sebagai peristiwa pemecahan kode, tetapi lebih sebagai penerimaan pengetahuan dan kebahagiaan. Orang seperti akan tampil tenang dan matang karena memiliki berbagai pengalaman tambahan seperti ia bisa menikmati dari bukan hanya fiksi tetapi juga non fiksi yang dibacanya. Ditinjau dari segi anak kemungkinan mereka menemukan kegembiraan tetapi sangat bergantung pada asuhan dan arahan para orang tua dan guru.
Tujuan tambahan pelajaran membaca adalah
menciptakan anak yang gemar membaca. Biasanya hal ini dapat diransang dengan mempergunakan cerita. Karena cerita
pasti menjadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Hal ini dapat
dipahami dengan melihat bagaimana bersemangat mengisahkan pengalamannya dengan
tuturan orang lain dalam perjalanan waktu berkembang menjadi kemampuan menyerap
dan menganalisa pengalaman, dalam bentuk pengalaman contoh panutan. Anak memanfaatkan
kemampuan membacanya dengan santai, sesuai dengan kebutuhan: apakah sekedar
kenikmatan atau penambah pengetahuan.
Tetapi dalam era yang maha cepat sekarang,
ketika tanpa kita kehendaki tuntutan kehidupan meningkat, pembaca tak lagi
boleh hanya sebagai membawa kenikmatan, tetapi sebagai alat pencapai percepatan
itu sendiri. Artinya orang wajib mengejar semua informasi. Ia harus memiliki
keterampilan mengumpulkan data dengan cepat sekaligus benar.Dan disini membaca
cepat menjadi utama.mengatakan membaca cepat yaitu jenis membaca yang diberikan
dengan tujuan agar para siswa dalam waktu singkat dapat membaca secara lancar,
serta dapat memahami isinya. Sementara itu, Soedarso, Speed Reading (Gramedia,
cet. 11,2004) mengatakan “metode speed reading merupakan semacam
latihan untuk mengelola secara cepat proses penerimaan informasi”. Seseorang akan dituntut untuk membedakan informasi yang diperlukan atau tidak. Informasi itu kemu dian disimpan dalam otak.
latihan untuk mengelola secara cepat proses penerimaan informasi”. Seseorang akan dituntut untuk membedakan informasi yang diperlukan atau tidak. Informasi itu kemu dian disimpan dalam otak.
Speed reading juga
merupakan keterampilan yang harus dipelajari agar mampu membaca lebih cepat.
Tidak ada orang yang dapat membaca cepat karena bakat. Maka itu harus dipahami
bahwa membaca cepat bukanlah melulu cepat memecah kode dan segera menyelesaikan
sebuah buku. Membaca cepat adalah bagaimana kita dapat membaca dengan pemahaman
yang lebih baik dalam waktu lebih cepat serta mengingatnya dengan baik pula.
“keterampilan membaca yang sesungguhnya bukan hanya sekedar kemampuan
menyuarakan lambang tertulis dengan sebaik-baiknya namun lebih jauh adalah
kemampuan memahami dari apa yang tertulis dengan tepat dan cepat”.
Untuk hasil yang demikian besar tentu diperlukan cara. Dan pendekatan yang pertama adalah mengetahui apa yang ingin kita kuasai. Dengan begitu, kita tidak membuang waktu membaca informasi yang tidak relevan dengan yang kita cari. Diantaranya dengan meyakini maksud atau tujuan, yang melahirkan fokus dan berdampak konsentrasi. Kesemua itu memerlukan teknik yang sering kali berbeda dari orang ke orang.
Yang pertama berkaitan dengan jenis serta ketepatan kwalitas penerangan dan yang kedua mengenai postur serta cara duduk bahkan penentuan jarak dan letak buku. Sambil melorot, melingkar, membungkuk, atau berbaring dan bersantai bukanlah cara yang tepat. Buku sebaiknya berada pada sudut 450 dari mata.
Untuk hasil yang demikian besar tentu diperlukan cara. Dan pendekatan yang pertama adalah mengetahui apa yang ingin kita kuasai. Dengan begitu, kita tidak membuang waktu membaca informasi yang tidak relevan dengan yang kita cari. Diantaranya dengan meyakini maksud atau tujuan, yang melahirkan fokus dan berdampak konsentrasi. Kesemua itu memerlukan teknik yang sering kali berbeda dari orang ke orang.
Yang pertama berkaitan dengan jenis serta ketepatan kwalitas penerangan dan yang kedua mengenai postur serta cara duduk bahkan penentuan jarak dan letak buku. Sambil melorot, melingkar, membungkuk, atau berbaring dan bersantai bukanlah cara yang tepat. Buku sebaiknya berada pada sudut 450 dari mata.
Ada
empat cara atau alternative membaca yaitu:
1. Membaca kata perkata, baris demi baris,
yang sangat berguna untuk membaca materi yang sulit.
2. Skimming, yaitu alinea pilihan atau baris pertama alinea.
3.Scanning, yaitu memeriksa semua materi untuk
mencari sesuatu yang khas misalnya nama atau angka.
4. Membaca visual, mengejar kelompok kata dengan
urutan mana suka. Cara ini cocok untuk memahami bacaan yang agak sulit serta
yang mudah.
Membaca cepat tentu saja bukan tujuan, sebab keterpahamanlah
yang tujuan dalam membaca cepat. Speed
reading adalah metode, metode ini bisa mengangkat kita dalam labirin bacaan
yang tak jelas ditengah banjir bahan bacaan saat ini. Speed reading bisa pula
dikatakan mencari gizi dari sebuah bacaan.
Membaca
cepat memiliki beberapa efek, yaitu:
1. Mencegah godaan setan membaca ulang atau
regresi. Kerap sekali kita melakkan itu.
Entah disebabkan tidak
percaya diri bahwa kalimat yang sudah kita lewati terlupa atau karena
kebiasaanm dibangku pendidikan yang selalu mentradisikan anak didiknya menghafal. Atau tiba-tiba muncul dibenak
yang membisikkan bahwa ada sesuatu yang tertinggal dibelakang. Jadi membaca
cepat membuat kita bisa berlari sekencang-kencangnya.
2. Membaca
cepat adalah upaya melepas ketergantungan pada mendengar kata-kata yang
dibenak. Terkadang kita tak sadari walau dalam kondisi mulut terkatub kita
masih bersedia mendengar bunyi yang menggema dalam pikiran.
1. Membaca cepat bisa melepaskan kita dari
gerakan fisik yang tak perlu seperti menggerakkan kepala atau memakai jari atau
memakai alat seperti lidi atau pensil mengikuti kemana baris-baris melangkah.
Dengan menggunakan teknik membaca cepat
para siswa diharapkan dapat lebih efesien dalam menggunakan waktu dalam
belajar. Data survey menunjukkan bahwa lima dari empat puluh siswa yang telah
mampu menggunakan pola speed reading dapat memahami suatu bacaan dengan sama
baiknya dengan siswa yang belum menguasai speed reading. Dengan pola pelatihan yang kontiniu diharapkan
para siswa dapat membaca dengan kecepatan hingga 800 kata per menit tanpa
menghilangkan makna bacaan.
Pengenalan ini menambah kecepatan karena konsentrasi pada format yang sudah hampir baku. Jadi kita tidak lagi mengharap-harap atau merisaukan yang tidak perlu, dari segi format atau sistematika memang membaca cepat dapat membantu penyelesaian pekerjaan. Untuk kecepatan yang kita kejar, kita kehilangan dan meninggalkan banyak kata serta beragam rasa dan nuansa. Oleh karena itu harus tetap diingat penting dan perlunya membaca sebagai pembawa kenikmatan rohani, sebagai penyeimbang. Karena kita tidak mungkin sanggup bertahan hanya mengejar dan mengingat begitu banyak informasi tanpa menghayati dan menghidupinya. Oleh sebab itu jangan lupa meninjau membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan.
Pengenalan ini menambah kecepatan karena konsentrasi pada format yang sudah hampir baku. Jadi kita tidak lagi mengharap-harap atau merisaukan yang tidak perlu, dari segi format atau sistematika memang membaca cepat dapat membantu penyelesaian pekerjaan. Untuk kecepatan yang kita kejar, kita kehilangan dan meninggalkan banyak kata serta beragam rasa dan nuansa. Oleh karena itu harus tetap diingat penting dan perlunya membaca sebagai pembawa kenikmatan rohani, sebagai penyeimbang. Karena kita tidak mungkin sanggup bertahan hanya mengejar dan mengingat begitu banyak informasi tanpa menghayati dan menghidupinya. Oleh sebab itu jangan lupa meninjau membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan.
Sesuai dengan
harapan tersebut, sekolah dasar berperan sangat penting. Karena sekolah dasar
adalah wadah pertama penanaman segala keterampilan hidup, termasuk keterampilan
membaca. Maka sekolah dasar perlu memasyarakatkan kegiatan membaca,
terutamamembacacepat.
Berbeda halnya
dengan harapan di atas, proses belajar membaca yang diselenggarakan oleh
pendidik saat ini hanya menekankan pada kemampuan siswa untuk membaca tanpa
memandang keefektifan dan keefesienan proses membaca itu sendiri. Fakta ini
akan mengakibatkan ketertinggalan siswa akan informasi yang berkembang dengan
sangat cepat dan gencar.
Berdasarkan permasalahan di atas, penulis
tertarik untuk memberikan sedikit solusi bagaimana upaya agar kemampuan membaca
siswa khususnya di sekolah dasar dapat ditingkatkan, dan mereka dapat mengimbangi
laju bahan bacaan yang semakin hari semakin gencar.
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah bagaimana meningkatkan kemampuan membaca cepat dengan menggunakan metode speed reading bagi siswa kelas IV sekolah dasar negeri 1 Tanjungrejo Secara terperinci rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:
1. Bagaimana
merancang RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) membaca dengan menggunakan
metode speed reading sehingga dapat menunjang peningkatan kemampuan membaca
cepat siswa di kelas IV sekolah dasar.
2. Bagaimana melaksanakan RPP (Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran) membaca tersebut sehingga dapat menunjang peningkatan
kemampuan membaca cepat siswa di kelas IV sekolah dasar.
3. Bagaimana format penilaian dalam
pembelajaran membaca yang menggunakan metode speed reading sehingga dapat
menunjang peningkatan kemampuan membaca cepat siswa di kelas IV sekolah dasar.
4. Bagaimana bentuk hasil yang telah dicapai
siswa di kelas V sekolah dasar dalam pembelajaran membaca yang menggunakan
metode speed reading.
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan
rumusan masalah diatas, maka secara umum tujuan penelitian tindakan kelas ini
adalah untuk mendeskripsikan tentang cara meningkatkan kemampuan membaca cepat
melalui metode speed reading bagi siswa kelas IV sekolah dasar.
Secara terperinci tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mendeskripsikan:
Secara terperinci tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mendeskripsikan:
1. Rancangan RPP (Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran) membaca dengan menggunakan metode speed reading sehingga dapat
menunjang peningkatan kemampuan membaca cepat siswa di kelas IV sekolah dasar.
2. Pelaksanaan RPP (Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran) membaca tersebut sehingga dapat menunjang peningkatan kemampuan
membaca cepat siswa di kelas IV sekolah dasar.
3. Format penilaian dalam pembelajaran
membaca yang menggunakan metode speed reading sehingga dapat menunjang
peningkatan kemampuan membaca cepat siswa di kelas IV sekolah dasar.
4. Hasil yang telah dicapai siswa di kelas IV
sekolah dasar dalam pembelajaran membaca yang menggunakan metode speed reading.
D. Manfaat Penelitian
Adapaun manfaat yang dapat diambil dari penulisan penelitian tindakan kelas ini adalah:
1. Menambah pengetahuan dan wawasan peneliti
dalam pengajaran membaca yang menunjang kepada peningkatan kemampuan membaca
cepat siswa di kelas IV sekolah dasar.
2. Memberikan informasi kepada guru sekolah
dasar tentang pentingnya kemampuan membaca cepat sekaligus sebagai salah satu
panduan dalam menjalankan tugas mengajar yang menyangkut dengan upaya
membimbing siswa terampil dalam membaca cepat.
3. Lebih meningkatkan kemampuan membaca siswa
kelas V sekolah dasar dalam keterampilan membaca cepat.
BAB II
KAJIAN TEORITIS
A. KAJIAN TEORI
1. Membaca
A. Pengertian Membaca
Anderson dalam tarigan (1980:8) menyangkut
linguistik menjelaskan bahwa membaca merupakan suatu proses penyandian kembali
(rekonding process) dan proses pembacaan sandi (dekonding process). Aspek ini menghubungkan kata-kata tulis
(written words) dengan makna bahasa lisan (oral languange meaning). Hal ini
mencakup pengubahan tulisan atau cetakan menjadi bunyi yang bermakna. Hudgson
(1960:43) mengatakan membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta
dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan
penulis melalui kata-kata dalam bahasa tulis.. Suatu proses yang menuntut
pembaca agar dapat memahami kelompok katayang tertulis merupakan suatu kesatuan
dan terlihat dalam suatu pandangan sekilas, dan makna kata-kata itu dapat
diketahui secara tepat. Apabila hal ini dapat terpenuhi maka pesan yang
tersurat dan yang tersirat dapat dipahami, sehingga proses membaca sudah
terlaksana dengan baik.
Seseorang yang sedang membaca berarti ia
sedang melakukan suatu kegiatan dalam bentuk berkomunikasi dengan diri sendiri
melalui lambang tertulis. Makna bacaan tidak tidak terletak pada bahan tertulis
saja, tetapi juga terletak pada pikiran pembaca itu sendiri. Dengan demikian
makna bacaan bisa berubah-ubah tergantung pembaca dan pengalaman berbeda yang
dimilikinya pada waktu membaca dan dipergunakannya untuk menafsirkan kata-kata
tulis tersebut. Seorang pembaca yang baik adalah seorang yang dapat mengambil
tanggapan mengenai bahasa (ide, stye, dan kematangan pengarang) dan pengertian
dengan kecepatan yang lumayan
Soedarso (1991:4) menjelaskan kemampuan
membaca yang baik merupakan hal yang sangat penting dalam suatu bacaan. Dalam
hal ini guru mempunyai peranan yang sangat besar untuk mengembangkan serta
meningkatkan kemampuan yang dibutuhkan dalam membaca. Usaha yang dapat dilakkan
guru diantaranya (1) Dapat menolong para siswa untuk memperkaya kosakata mereka
dengan jalan memperkenalkan sinonim kata-kata, antonim, imbuhan, dan
menjelaskan arti suat kata abstrak dengan mempergunakan bahasa daerah atau bahasa
ibu mereka, (2) dapat membantu para siswa untuk memahami makna
struktur-struktur kata, kalimat dan disertai latihan seperlunya, (3) dapat
meningkatkan kecepatan membaca para siswa dengan menyuruh mereka membaca dalam
hati, menghindari gerakan bibir, dan menjelaskan tujuan membaca. Seseorang yang
dapat memahami suatu bacaan atau wacana, akan menemukan wujud skemata yang
memberikan usulan yang memadai tentang suatu bacaan. Proses pemahaman suatu
bacaan adalah menemukan konfigurasi skemata yang menawarkan uraian yang memadai
tentang suatu bacaan. Sampai sekarang konsep skema merupakan jalan yang paling
memberikan harapan dari sudut wacana pada umumnya. Karena skemata merupakan
bagian dari penyajian pengetahuan latar, luasnya pengetahuan dan pengalaman pembaca
merupakan salah satu dasar bagi kokohnya rancangan yang menggunakan konsep
skema.
Tarigan (1980:18) mengatakan guru yang mau
mengetahui kemampuan siswa tentang suatu bacaan dapat melakukannya dengan cara
(1)Mengemukakan berbagai jenis pertanyaan, (2) mengemukakan pertanyaan yang
jawabannnya dapat ditemukan oleh siswa secara kata demi kata (verbalim), (3)
menyuruh siswa membuat rangkuman atau ikhtisar, (4) menanyakan ide pokok apa
yang dibaca. kemampuan pemahaman yang diperlukan dalam membaca meliputi (1)
memahami kosakata yang dipakai dalam bahasa umum dan dapat menyimpulkan artinya
dalam konteksnya, (2)memahami bentuk-bentuk sintaksis dan ciri-ciri morfologi
tertulis yang didapatkan dalam bacaan, (3) dapat mengambil kesimpulan dan
tanggapan yang valid dari bahan yang dibaca.
Berdasarkan pernyataan di atas maka kemampuan membaca adalah bagaimana seseorang dapat memahami dengan baik apa pesan yang disampaikan dalam bacaan itu, sehingga informasi yang diserap dapat diungkapkan kembali dengan tepat, baik secara lisan maupun secara tulisan.
Berdasarkan pernyataan di atas maka kemampuan membaca adalah bagaimana seseorang dapat memahami dengan baik apa pesan yang disampaikan dalam bacaan itu, sehingga informasi yang diserap dapat diungkapkan kembali dengan tepat, baik secara lisan maupun secara tulisan.
b. Unsur-unsur yang Terkandung dalam Membaca
Abdullah (1990:2) mengatakan:Unsur-unsur
kemampuan membaca dapat ditelusuri dari pengertian membaca yang telah
dikemukakan. Pertama, karena membaca itu merupakan interaksi dengan bahasa yang
telah diubah menjadi cetakan, maka kemampuan memahami lambang-lambang bunyi
merupakan penentu utama keberhasilan membaca. Kedua, karena hasil interaksi
dengan bahasa cetak itu merupakan pemahaman, maka kemampuan memaknai susunan
lambang-lambang bunyi juga merupakan unsur penentu keberhasilan membaca.
Ketiga, karena kemampuan membaca itu berhubungan erat dengan kemampuan
berbahasa lisan, maka unsur-unsur kemampuan fisik, misalnya kemampuan mata dan
kemampuan mengendalikan gerak bibir juga mempengaruhi keberhasilan membaca.
Keempat, karena membaca itu merupakan proses aktif dan berlanjut yang
dipengaruhi langsung oleh interaksi seseorang dengan lingkungannya, maka
keberhasilan membaca juga dipengaruhi oleh unsur kecerdasan serta pengalaman
membaca yang dimiliki.
c. Jenis-jenis Membaca
Bermacam-macam kelakuan dan tujuan manusia
dalam membaca, semua tergantung kepada niat dan sikap dari si pembaca. Dalam
hal ini ada 2 jenis membaca yang didasarkan kepada tingkat dan kemauan
berdasarkan kepada tujuan dan kecepatan.
1) Membaca Berdasarkan Tingkatannya
1) Membaca Berdasarkan Tingkatannya
Agustina (1990:10) membagi membaca menjadi 4 jenis, yaitu
membaca permulaan, membaca inspeksional, membaca analitis, dan membaca
sintopikal. Lebih lanjut jenis
membaca tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Membaca Permulaan
Membaca permulaan dianggap sebagai membaca tingkat
dasar. Ini lebih mengutamakan kegiatan jasmani atau fisik. Kesanggupan
menyuarakan lambang-lambang bahasa tulis serta menangkap makna yang berada
dibalik lambang-lambang tersebut adalah sebahagian kegiatan yang dilakukannya.
2. Membaca Inspeksional
Membaca inspeksional
berkaitan dengan masalah waktu yang tersedia untuk membaca. Pembaca hanya mempunyai waktu yang relatif singkat,
sedangkan pembaca harus menyelesaikan.
3.
Membaca Analitis
Membaca analitis
bukan hanya sekedar menyuarakan lambang bahasa dan menangkap makna yang berada
dibalik lambang itu saja, tetapi lebih dari itu, kegiatan mental setelah
kegiatan jasmani pada pembaca jenis ini sangat diperlukan. Karena membaca
analitis merupakan membaca lengkap, baik dan sempurna yang dilakukan dalam
waktu yang tidak terbatas dengan tujuan menganalisa tentang bacaan yang dibaca.
4.
Membaca Sintopikal
Membaca sintopikal
ini menuntut pembaca untuk mempunyai waktu lebih banyak lagi, karena dalam membaca
sintopikal pembaca harus menganalisis lebih dari 1 buku.
Dari keempat jenis tingkatan membaca di atas, membaca sintopikal-lah yang paling berat dan melelahkan. Namun membaca sintopikal atau membaca perbandingan ini memungkinkan pembaca memperoleh kepuasan, karena banyak informasi yang dapat diperoleh dengan membaca pada tingkatan ini.
Dari keempat jenis tingkatan membaca di atas, membaca sintopikal-lah yang paling berat dan melelahkan. Namun membaca sintopikal atau membaca perbandingan ini memungkinkan pembaca memperoleh kepuasan, karena banyak informasi yang dapat diperoleh dengan membaca pada tingkatan ini.
2) Membaca Berdasarkan Kecepatan dan
Tujuannya
Gani
dan Semi (1976:4) membagi membaca ke dalam 4 jenis, yaitu; membaca kilat
(skimming), membaca cepat (speed reading), membaca studi (careful reading), dan
membaca reflektiv (reflektive reading).
a.)
Membaca Kilat (skimming)
Membaca
kilat (skimming) merupaka salah satu cara membaca yang lebih mengutamakan
penangkapan esensi materi bacaan, tanpa membaca keseluruhan dari materi bacaan
tersebut. Untuk membaca kilat diperlukan keterampilan yang dapat menentukan
bagian-bagian bacaan yang mengandung ide atau pikiran pokok.
Tujuan membaca kilat adalah menangkap seperangkat ide pokok, mendapatkan informasi yang penting dalam waktu singkat atau terbatas, dan menemukan suatu pandangan atau sikap penulis.
Tujuan membaca kilat adalah menangkap seperangkat ide pokok, mendapatkan informasi yang penting dalam waktu singkat atau terbatas, dan menemukan suatu pandangan atau sikap penulis.
b.)
Membaca Cepat (speed reading)
Membaca
cepat adalah membaca yang dilakukan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Biasanya
dengan membaca kalimat demi kalimat dan paragaraf tetapi tidak membaca kata
demi kata.Tujuannya adalah untuk memperoleh informasi, gagasan utama, dan
penjelasan dari suatu bacaan dalam waktu yang singkat.
c.) Membaca Studi (careful reading)
Membaca studi dilakukan untuk memahami,
mempelajari, dan meneliti suatu persoalan, kadang-kadang dituntut pula untuk
menghadapkannya dalam ingatan. Untuk keperluan ini, membaca harus dilaksanakan
dengan kecepatan yang agak rendah. Ciri-ciri pembaca yang baik dan efesien
yaitu mempunyai kebiasaan yang baik dalam membaca, betul-betul mengerti tentang
apa yang dibaca, sehabis membaca dapat mengingat sebahagian besar pokok-pokok
bacaan, dan dapat membaca dengan kecepatan yang terkontrol (Al-Falasay dan
Naif, 1985:25).
d.) Membaca Reflektiv (reflektive reading)
Membaca reflektiv adalah membaca untuk
menangkap informasi dengan terperinci dan kemudian melahirkannya kembali atau
melaksanakannya dengan tepat sesuai dengan keterangan yang diperoleh. Biasanya
membaca reflektiv dilakukan dengan tuntutan petunjuk tentang percobaan di
labor, petunjuk yang memerlukan tindakan pembaca. Disamping itu juga
dilaksanakan atau ditujukan untuk merefleksikan suatu bacaan, membaca untuk
kesenangan dan membaca estetis.
5.
Membaca Cepat
a. Pengertian Membaca Cepat
Nurhadi ( 1987:31-32) menyatakan “membaca cepat
dan efektif ialah jenis membaca yang mengutamakan kecepatan, dengan tidak
meninggalkan pemahaman terhadap aspek bacaannya”.
Muchlisoh (1992:149) mengatakan bahwa: Membaca cepat bukan berarti jenis membaca yang ingin memperoleh jumlah bacaan atau halaman yang banyak dalam waktu yang singkat. Pelajaran ini diberikan dengan tujuan agar siswa sekolah dasar dalam waktu yang singkat dapat membaca secara lancar dan dapat memahami isinya secara tepat dan cermat. Jenis membaca ini dilaksanakan tanpa suara.
Muchlisoh (1992:149) mengatakan bahwa: Membaca cepat bukan berarti jenis membaca yang ingin memperoleh jumlah bacaan atau halaman yang banyak dalam waktu yang singkat. Pelajaran ini diberikan dengan tujuan agar siswa sekolah dasar dalam waktu yang singkat dapat membaca secara lancar dan dapat memahami isinya secara tepat dan cermat. Jenis membaca ini dilaksanakan tanpa suara.
Berbeda dengan pendapat-pendapat
sebelumnya, Supriyadi (1995:128) mengatakan bahwa “membaca cepat adalah jenis
membaca yang mengutamakan kecepatan mata dalam membaca”. Saleh Abbas (2006:108)
menyatakan “membaca cepat adalah membaca sekejap mata, selayang pandang.
Tujuannya adalah dalam waktu yang singkat pembaca memperoleh informasi secara
cepat dan tepat”.
Dari beberapa
pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa membaca cepat adalah jenis membaca
yang mengutamakan kecepatan dengan menggunakan gerakan mata dan dilakukan tanpa
suara yang bertujuan untuk memperoleh informasi secara tepat dan cermat dalam
waktu singkat.
b. Pemahaman dalam Membaca Cepat
Dalam membaca
cepat terkandung pemahaman yang cepat pula. Bahkan pemahaman inilah yang
menjadi pangkal tolak pembahasan, bukannya kecepatan. Akan tetapi, bukan
berarti membaca lambat akan meningkatkan pemahaman. Bahkan orang orang yang
biasa membaca lambat untuk mengerti suatu bacaan akan dapat mengambil manfaat
yang besar dengan membaca cepat. Seorang pembaca yang baik akan mengatur
kecepatan dan memilih jalan terbaik untuk mencapai tujuannya. Kecepatan membaca
sangat tergantung pada bahan dan tujuan membaca, serta sejauh mana keakraban
dengan bahan bacaan. Kecepatan membaca harus seiring dengan kecepatan memahami
bahan bacaan.
Supriyadi (1995:127) menyatakan “keterampilan membaca yang sesungguhnya bukan hanya sekedar kemampuan menyuarakan lambang tertulis dengan sebaik-baiknya namun lebih jauh itu adalah kemampuan memahami dari apa yang tertulis dengan tepat dan cepat”.
“Seorang pembaca cepat tidak berarti menerapkan kecepatan membaca itu pada setiap keadaan, suasana, dan jenis bacaan yang dihadapinya”(Nurhadi, 1987:32).
Soedarso (1988:18) mengatakan “kecepatan membacapun harus fleksibel. Artinya, kecepatan tidak harus selalu sama. Adakalanya kecepatan itu diperlambat. Hal itu tergantung pada bahan dan tujuan kita membaca”.
Supriyadi (1995:127) menyatakan “keterampilan membaca yang sesungguhnya bukan hanya sekedar kemampuan menyuarakan lambang tertulis dengan sebaik-baiknya namun lebih jauh itu adalah kemampuan memahami dari apa yang tertulis dengan tepat dan cepat”.
“Seorang pembaca cepat tidak berarti menerapkan kecepatan membaca itu pada setiap keadaan, suasana, dan jenis bacaan yang dihadapinya”(Nurhadi, 1987:32).
Soedarso (1988:18) mengatakan “kecepatan membacapun harus fleksibel. Artinya, kecepatan tidak harus selalu sama. Adakalanya kecepatan itu diperlambat. Hal itu tergantung pada bahan dan tujuan kita membaca”.
Supriyadi
(1995:142) menyatakan “bahan bacaan untuk pelajaran membaca cepat hendaknya
bahan bacaan yang pernah dibaca atau bahan bacaan yang diperkirakan dekat dan akrab
dengan kehidupan pembaca”. Pembaca yang efektif dan efesien mempunyai kecepatan
bermacam-macam. Sadar akan berbagai tujuan, tingkat kesulitan bahan bacaan,
serta keperluan membacanya saat itu. Karena kesadaran itu akan sangat berpengaruh
terhadap tingkat pemahaman terhadap isi bacaan.
c. Kegunaan Membaca Cepat
Depdikbud (2005:7)
mengatakan: Ada berbagai kegunaan yang terkandung dari kemampuan membaca cepat,
diantaranya adalah (1) membaca cepat menghemat waktu, (2) membaca cepat menciptakan
efesiensi, (3) semakin sedikit waktu yang diperlukan untuk melakukan hal-hal
rutin, maka semakin banyak waktu yang tersediauntuk mengerjakan hal penting
lainnya, (4) membaca cepat memiliki nilai yang menyenangkan/ menghibur, (5)
membaca cepat memperluas cakrawala mental, (6) membaca cepat membantu berbicara
secara efektif, (7) membaca cepat membantu dalam menghadapi ujian, (8) membaca
cepat meningkatkan pemahaman, (9) membaca cepat menjamin untuk selalu mutakhir,
dan (10) membaca cepat dapat dikatakan sebagai tonikum mental.
d. Penghambat Kecepatan Membaca
Depdikbud
(2005:26) mengemukan: Beberapa kebiasaan umum negatif yang lumrah terdapat pada
pembaca yang biasa ataupun pembaca yang lambat, hal itu antara lain (1)
meneliti materi bacaan secara berlebihan dan melakukan subvokalisasi, (2) tidak
berusaha mengurangi gangguan waktu dan interupsi, dan (3) membiarkan stress
mengganggu disaan pembaca dihadapkan pada materi bacaan yang terlampau banyak
ataupun membiarkan adanya kesulitan fisik lainnya yang berkaitan dengan
membaca,
e. Kebiasaan Positif yang Dapat Menunjang Peningkatan Membaca Cepat
Depdikbud
(2005:26) mengemukakan bahwa “kebiasaan positif yang harus dikembangkan atau
perkuat dalam membaca antara lain (1) meningkatkan motivasi, (2) meningkatkan
konsentrasi, (3) meningkatkan daya ingat dan daya panggil ulang, (4)
meningkatkan pemahaman.”
f. Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat
Kemampuan membaca
cepat bukanlah kemampuan yang diperoleh karena bakat, karena “membaca cepat
adalah sebuah keterampilan” (Nurhadi, 2004:26). Seirama dengan itu Depdikbud
(2005:5) menyatakan bahwa: Membaca cepat adalah sebuah keterampilan.
Keberhasilan anda dalam menguasai teknik ini sangat bergantung pada sikap anda
sendiri, tingkat keseriusan anda, dan kesiapan untuk mencoba melatihkan teknik
tersebut. Untuk itu anda harus; 1) berkeinginan untuk memperbaiki; 2) merasa
yakin bahwa anda akan dapat melakukan hal itu.
Berdasarkan pernyataan di atas maka usaha
peningkatan kemampuan kemampuan membaca cepat membutuhkan seragkaian latihan
secara bertahap yang dirancang unuk menghilangkan kebiasaan negatif dalam
membaca dan sekaligus menonjolkan positifnya.
Depdikbud (2005:26) mengungkapkan:
Depdikbud (2005:26) mengungkapkan:
Ada beberapa upaya untuk meningkatkan
kemampuan membaca cepat seseorang. Beberapa upaya tersebut adalah (1)
mengurangi subvokalisasi, (2) mengurangi kebiasaan menunda dan interupsi, (3)
mengurangi stres, (4) meningkatkan konsentrasi, (5) meningkatkan daya ingat dan
daya panggil ulang, (6) menggunakan pola pemanggilan ulang.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan
kemampuan membaca cepat, seseorang memerlukan latihan dengan menerapkan
berbagai metode pendukung. Salah satu metode yang dapat mendukung upaya kearah
peningkatan kemampuan membaca cepat adalah dengan menerapkan metode speed
reading.
3. Metode Speed Reading
a. Pengertian Speed Reading
Soedarso, Speed
Reading (Gramedia, cet. 11,2004) mengatakan “metode speed reading merupakan
semacam latihan untuk mengelola secara cepat proses penerimaan informasi”.
Seseorang akan dituntut untuk membedakan informasi yang diperlukan atau tidak.
Informasi itu kemudian disimpan dalam otak. Speed reading juga merupakan
keterampilan yang harus dipelajari agar mampu membaca lebih cepat sekaligus
memahami semua yang terkandung di dalam bacaan yang bersangkutan. Tidak ada
orang yang dapat membaca cepat karena bakat. Maka itu harus dipahami bahwa
membaca cepat bukanlah melulu cepat memecah kode dan segera menyelesaikan
sebuah buku. Membaca cepat adalah bagaimana kita dapat membaca dengan pemahaman
yang lebih baik dalam waktu lebih cepat serta mengingatnya dengan baik pula.
Bersamaan dengan hal tersebut di atas Supriyadi (1995:127) menyatakan
“keterampilan membaca yang sesungguhnya bukan hanya sekedar kemampuan
menyuarakan lambang tertulis dengan sebaik-baiknya namun lebih jauh adalah
kemampuan memahami dari apa yang tertulis dengan tepat dan cepat”.
Dengan menggunakan teknik speed reading para siswa diharapkan dapat lebih efesien dalam menggunakan waktu dalam belajar. Data survey menunjukkan bahwa lima dari empat puluh siswa yang telah mampu menggunakan pola speed reading dapat memahami suatu bacaan dengan sama baiknya dengan siswa yang belum menguasai speed reading. Dengan pola pelatihan yang kontiniu diharapkan para siswa dapat membaca dengan kecepatan hingga 800 kata per menit tanpa menghilangkan makna bacaan.
Dengan menggunakan teknik speed reading para siswa diharapkan dapat lebih efesien dalam menggunakan waktu dalam belajar. Data survey menunjukkan bahwa lima dari empat puluh siswa yang telah mampu menggunakan pola speed reading dapat memahami suatu bacaan dengan sama baiknya dengan siswa yang belum menguasai speed reading. Dengan pola pelatihan yang kontiniu diharapkan para siswa dapat membaca dengan kecepatan hingga 800 kata per menit tanpa menghilangkan makna bacaan.
b. Langkah-langkah Speed Reading
Nurhadi (2004:26)
menyatakan “membaca cepat dapat dilakukan dengan cara (1) persiapkan pencatat
waktu (arloji), perhatikan pada saat anda mulai membaca, (2) hitung berapa lama
(menit) anda menyelesaikan teks tersebut; kemudian, (3) dengan jumlah lama
waktu itu (…menit,…detik) lihatlah kedalam tabel kecepatan membaca”..
Format Daftar Kecepatan Membaca
Waktu mulai : …menit…detik
Format Daftar Kecepatan Membaca
Waktu mulai : …menit…detik
Waktu berakhir :
…menit…detik
Lama/Waktu
Kecepatan
1 menit 00 detik…
600 kata/menit…
Nurhadi (2004: 19-21)Widodo Santoso dalam MUTU Vol. IV No. 03 Edisi Oktober-Desember 1995:42 menyatakan langkah-langkah latihan kecepatan membaca adalah:
1.) Siswa secara klasikal diberi bacaan (wacana) yang sama.
2.) Bagi siswa kelas I dan II tugas
membaca bergantian tiap siswa, dan bagi siswa kelas III sampai dengan VI
membaca dalam hati/pemahaman secara bersama.
3.) Masing-masing siswa menghitung jumlah kata yang telah dibaca selama batas waktu yang telah ditetapkan. Jika dikhawatirkan siswa tidak jujur, dapat diadakan tanya jawab tentang isi wacana atau kalimat terakhir yang dibacanya.4.) Menghitung rata-rata jumlah kata yang telah dibaca masing-masing siswa dalam setiap menit. 5.) Guru membuat tabel kecepatan membaca dan siswa menuliskan banyaknya kata setiap latihan.
3.) Masing-masing siswa menghitung jumlah kata yang telah dibaca selama batas waktu yang telah ditetapkan. Jika dikhawatirkan siswa tidak jujur, dapat diadakan tanya jawab tentang isi wacana atau kalimat terakhir yang dibacanya.4.) Menghitung rata-rata jumlah kata yang telah dibaca masing-masing siswa dalam setiap menit. 5.) Guru membuat tabel kecepatan membaca dan siswa menuliskan banyaknya kata setiap latihan.
Untuk mengukur keccepatan membaca
dipergunakan rumus:
KM=KB X
PI KPM
SM : 60 100
Keterangan :
KM :
Kemampuan membaca
KPM :
Jumlah kata permenit
KB :
Jumlah kata dalam bacaan
SM :
Jumlah sekon membaca
PI :
Presentase pemahaman isi
100
Widodo Santoso dalam MUTU Vol. IV No. 03
Edisi Oktober-Desember 1995:42.
4. Pengajaran Membaca Cepat dengan
Menggunakan Metode Speed Reading
a. Perencanaan Pengajaran Membaca Cepat
dengan Menggunakan Metode Speed
Reading
Sebelum melaksanakan proses belajar mengajar suatu pokok bahasan tertentu, guru dituntut untuk membuat perencanaan pengajaran (Supriyadi, 1995:159). Semakin baik perencanaan yang dibuat, semakin mudah pelaksanaan pengajarannya sehingga semakin tinggi hasil belajar mengajar yang dicapai. Perencanaan pengajaran yang dipersiapkan guru dituangkan dalam wujud satuan pelajaran (satpel) yang sepenuhnya berpedoman kepada GBPP (Garis-garis Besar Program Pengajaran) (Supriyadi, 1995:162). Apabila pernyataan tersebut kita sesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sekarang, maka perencaan pengajaran yang dipersiakan guru dituangkan dalam wujud rencana pelaksanaan pengajaran (RPP) yang sepenuhnya berpedoman kepada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang telah ditetapkan oleh badan standar nasional pendidikan (BSNP). Dalam KTSP sudah dicantumkan kolom-kolom yang memuat informasi: standar kompetensi dan kompetensi dasar, program (kelas, semester).
Melihat wujud kurikulum yang demikian, terdapat pokok-pokok masalah yang perlu diperhatikan guru dalam merencanakan persiapan mengajarnya, yaitu:
Sebelum melaksanakan proses belajar mengajar suatu pokok bahasan tertentu, guru dituntut untuk membuat perencanaan pengajaran (Supriyadi, 1995:159). Semakin baik perencanaan yang dibuat, semakin mudah pelaksanaan pengajarannya sehingga semakin tinggi hasil belajar mengajar yang dicapai. Perencanaan pengajaran yang dipersiapkan guru dituangkan dalam wujud satuan pelajaran (satpel) yang sepenuhnya berpedoman kepada GBPP (Garis-garis Besar Program Pengajaran) (Supriyadi, 1995:162). Apabila pernyataan tersebut kita sesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sekarang, maka perencaan pengajaran yang dipersiakan guru dituangkan dalam wujud rencana pelaksanaan pengajaran (RPP) yang sepenuhnya berpedoman kepada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang telah ditetapkan oleh badan standar nasional pendidikan (BSNP). Dalam KTSP sudah dicantumkan kolom-kolom yang memuat informasi: standar kompetensi dan kompetensi dasar, program (kelas, semester).
Melihat wujud kurikulum yang demikian, terdapat pokok-pokok masalah yang perlu diperhatikan guru dalam merencanakan persiapan mengajarnya, yaitu:
1.) bagaimana menjabarkan tujuan yang
masih bersifat umum tersebut (standar kompetensi dan kompetensi dasar) ke dalam
rumusan yang lebih operasional, jelas dan sederhana (indikator)?, 2.) bagaimana
menetapkan sumber dan bahan pengajaran (pokok bahasan) beserta uraiannya?, 3.)
bagaimana menetapkan teknik atau metode kegiatan belajar mengajar yang akan
ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut?, 4.) bagaimana menetapkan
langkah-langkah kegiatan belajar mengajar yang akan ditempuh untuk mencapai
tujuan tersebut?, 5.) bagaimana bentuk evaluasi yang akan dikembangkan untuk
mengukur tingkat pencapaian tujuan di atas?.
b. Pelaksanaan Perencanaan Pengajaran Membaca Cepat dengan Menggunakan
Metode Speed Reading
Setelah selesai
menyelesaikan pembuatan persiapan/perencanaan mengajar, selanjutnya memasuki
tahap pelaksanaan rencana tersebut di dalam kegiatan nyata dalam kelas. Untuk
melaksanakan program pengajaran tersebut, tentu saja perlu diperhatikan hal-hal
berikut:
1.) Kurikulum yang
bersangkutan dengan membaca cepat;
2.) mempertimbangkan
alokasi waktu yang tersedia;
3.) pema atau
lingkungan sekitarnya;
pemanfaatan berbagai sumber dan sarana
yang terdapat di lingkungan sekolah
4.) sifat pokok bahasan membaca cepat itu sendiri.
Langkah-langkah proses belajar mengajar (PBM) yang dikelola guru hendaknya dapat mengarahkan siswa terhadap pencapaian tujuan pengajaran membaca cepat seperti yang telah dirumuskan dalam indikator. Melalui pendekatan keterampilan proses dengan menerapkan metode speed reading, proses belajar mengajar dijadikan sarana bagi penggalian, pembinaan, dan pengembangan kemampuan dasar masing-masing siswa. Oleh karena itu itu titik berat proses belajar mengajar ditekankan pada aktivitas siswa yang menunjang peningkatan kemampuan membaca cepatnya. Instruksi-instruksi, tugas, saran, perintah, penjelasan guru, dan sejenisnya hendaklah jelas sehinga dapat dipahami siswa. Dan yang tidak kalah penting dari hal-hal di atas ialah bahwa hasil dari proses belajar mengajar membaca cepat ini hendaknya dapat dinilai, baik dalam prosesnya, maupun hasil belajar yang diperoleh siswa. Dan pada akhirnya diharapkan siswa kita dapat menunjukkan hasil belajar membaca cepat dalam wujud yang lebih konkret. Misalnya grafik kemajuan membaca cepat siswa dan sebagainya yang dapat dipajangkan. Cara seperti ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
c. Penilaian-penilaian Pengajaran Membaca Cepat dengan Menggunakan Metode
speed reading
Supriyadi
(1995:167) menyatakan “penilaian ini dapat dilakukan terhadap dua hal, yaitu
penilaian terhadap proses belajar mengajar yang sedang berlangsung dan
penilaian terhadap hasil belajar siswa. Penilaian terhadap proses dapat dilacak
dari segi perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian.”Penilaian terhadap
perencanaan dapat diarahkan terhadap komponen-komponen rencana pelaksanaan
pengajaran seperti indikator, proses belajar mengajar (yang terintegrasi di
dalamnya bahan, metode, media, sumber, dan sarana), dan evaluasi. Apakah
komponen-komponen tersebut relevan dengan pokok bahasan membaca dan tuntutan
pengajaran membaca?. Penilaian terhadap pelaksanaan pengajaran membaca
ditujukan terhadap tingkat kesesuaian kegiatan yang dilakukan dengan tujuan
pengajaran yang telah ditetapkan dan bagaimana proses kegiatan itu berlangsung.
Adakah kegiatan tersebut mengembangkan keterampilan proses dan membaca cepat ?.
Bagaimana dengan pengembangan konsep dan nilai, serta penegmbangan keterampilan
siswa, apakah hal tersebut tampak dalam aktivitas siswa?. Kegiatan ini diiringi
dengan pemberian umpan balik oleh guru, baik secara individual maupun kelompok.
Bentuknya dapat berupa bantuan, petunjuk, penghargaan, dan lain-lain sehingga hal
ini dapat tercermin dari kegiatan siswa seperti berikut:
1.) siswa membaca mandiri, 2.) siswa menjadi tutor sebaya dalam menjelaskan kosakata sulit bagi kawan-kawannya, 3.) siswa membuat laporan kemampuan membaca cepatnya,
4.) siswa mengulang bahan bacaan yang telah diberikan untuk lebih meningkatkan kemampuannya dalam membaca cepat. Penilaian terhadap hasil belajar siswa terutama diarahkan kepada (1) penguasaan konsep, (2) pengembangan sikap dan nilai, dan (3) penguasaan keterampilan.
1.) siswa membaca mandiri, 2.) siswa menjadi tutor sebaya dalam menjelaskan kosakata sulit bagi kawan-kawannya, 3.) siswa membuat laporan kemampuan membaca cepatnya,
4.) siswa mengulang bahan bacaan yang telah diberikan untuk lebih meningkatkan kemampuannya dalam membaca cepat. Penilaian terhadap hasil belajar siswa terutama diarahkan kepada (1) penguasaan konsep, (2) pengembangan sikap dan nilai, dan (3) penguasaan keterampilan.
Siswa dianggap telah
menguasai konsep apabila mereka telah dapat menafsirkan dan membuat ringkasan
isi wacana, serta melahirkan gagasannya sendiri mengenai sub pokok bahasan
tersebut dengan bahasa dan imajinasinya sendiri. Penumbuhan sikap dan nilai
tercermin dari sikap berani mengeluarkan pendapat, berdisiplin, jujur, dan
lain-lain. Penguasaan keterampilan dapat terlihat pada kemampuan mencari dan
menemukan ide paragraf, kemampuan membaca dengan kecepatan yang memadai,
kemampuan melahirkan kembali (berbicara), dan sebagainya.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Seting penelitian
Penelitian
dilaksanakan di SD N 1 Tanjungrejo kecamatan negerikaton kabupaten pesawaran
pada kelas IV Semester 1 denagan jumlah siswa 20 orang terdiri dari 11 siswa
perempuan dan 9 siswa laki-laki
B. Prosedur penelitian
1. Persiapan
Penelitian ini dibagi menjadi tiga siklus yang
berlangsung selama tiga pekan. Dua pekan dipakai untuk pelaksanaan kegiatan penelitian dan satu pekan dipakai untuk
penulisan laporan kegiatan sehingga jumlah waktu penelitan tiga pekan.
2. Rencana tindakan
Adapun rencana tindakan tiap-tiap siklus sebagai
berikut:
a. Siklus 1
Perencanaan
Penelitian ini mengharapkan kemampuan siswa dapat
meningkat. Guru merupakan
kegiatan pembelajaran dengan membuat persiapan pengajaran yang berhubungan
dengan memberikan materi yang akan diberikan.
Tindakan
1. guru menjelaskan materi pembelajaran
secara klasikal.
2. siswa melakukan kegiatan pembelajaran
dalam kelompok kecil yaitu membaca wacana yang telah disampaikan dalam waktu
yang telah ditentukan.
3. siswa mengerjakan soal yang telah
diberikan.
4. guru menghitung kemampuan membaca siswa.
Refleksi : pada akhir siklus diadakan perenungan
terhadap hasil-hasil yang diperoleh baik dari catatan guru maupun hasil kerja
siswa.
B. Siklus 2
Perencanaan
Pada siklus direncanakan melanjutkan program pada
siklus satu guru merefisi hasil refleksi yang diperoleh pada akhir siklus.
Tindakan
Tindakan yang dilakukan pada siklus dua adalah :
1. Guru menjelaskan materi yang akan
diberikan.
2. guru menjelaskan teknik pengajaran/
menjelaskan apa yang akan dikerjakan siswa yaitu menujuk beberapa siswa untuk
membaca teks yang telah diperssiapkan sebelumnya.
3. Siswa yang lain mengerjakan hal yang sama
seperti siswa lain.
4. Guru menghitung kemampuan membaca siswa.
Refleksi: Dilakukan reflksi pada akhir siklus
dengan melihat catatan guru maupun hasil kerja siswa.
2.
Cara pengambilan Data
Cara pengambilan data adalah dengan data
kuantitatif melalui hasil kerja siswa tiap-tiap siklus. Untuk kelengkapan
pengumpulan digunakan instrumen penelitian berupa: ”tes kemampuan membaca pada
tiap-tiap siklus”
DAFTAR PUSTAKA
Departemen pendidikan Nasional 2001. jakarta.
Buletin pusat
pembukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Guntur Tarigan. Pengajaran kompetensi Bahasa, Bandung. Angkasa.
Nurhadi. 1987. Membaca cepat dan efektif. Bandung,Cv Sinar baru
Sudarso. 1989. Sistem
membaca capat dan efektif. Jakarta; PT.Gramedia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar